

Dies Natalis ke-39 Universitas Hang Tuah: Fakultas Farmasi Dorong Peningkatan Kualitas Produk UMKM
SURABAYA, 05 Mei 2026 – Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-39 Universitas Hang Tuah, Fakultas Farmasi Universitas Hang Tuah kembali menegaskan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program pemberdayaan ekonomi kreatif. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk penyuluhan bertema “Peningkatan Kualitas Produk UMKM melalui Pemahaman Bahan Tambahan Pangan (BTP) dan Teknik Thawing yang Tepat” yang menyasar pelaku UMKM di Kecamatan Sukolilo.
Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan Fakultas Farmasi ini menghadirkan Ibu Rina Andayani, S.T., M.T. sebagai narasumber utama. Program ini diketuai oleh Bapak Faisal Akhmal Muslikh, S.Farm., M.Farm., yang dikoordinasikan bersama KaLitabmas Fakultas Farmasi Ibu apt. Angelica Kresnamurti, M. Farm., dan secara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Farmasi, Prof. Dr. apt. Suko Hardjono, M.S. Kehadiran Rektor Universitas Hang Tuah, Laksamana Muda (Purn) Dr. Ir. Avando Bastari, M.Phil., M.Tr.Opsla., IPM., ASEAN Eng., beserta jajaran pimpinan Universitas turut menambah semangat dan dukungan terhadap kegiatan ini.
Puluhan pelaku UMKM tampak antusias mengikuti kegiatan sejak pagi hari. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan relevan dengan praktik produksi sehari-hari, sehingga peserta dapat langsung memahami serta mengimplementasikannya dalam usaha mereka.
Dalam sesi pertama, peserta mendapatkan pemahaman mendalam mengenai Bahan Tambahan Pangan (BTP), yang menurut regulasi merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk produk. Edukasi ini menekankan bahwa penggunaan BTP bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan harus dipahami dan digunakan secara tepat sesuai aturan agar produk tetap aman dikonsumsi.
Lebih lanjut, narasumber menjelaskan berbagai jenis BTP seperti pewarna, pengawet, dan penguat rasa beserta fungsinya. Pewarna, misalnya, berperan dalam meningkatkan daya tarik visual produk, baik yang berasal dari sumber alami seperti kunyit dan daun suji, maupun sintetis seperti tartrazin dan sunset yellow. Peserta juga diberikan wawasan tentang perbedaan karakteristik keduanya, termasuk dari segi stabilitas, harga, dan keamanan, sehingga pelaku UMKM dapat memilih jenis yang sesuai dengan kebutuhan produksi mereka.
Selain itu, materi pengawet juga menjadi perhatian penting, di mana dijelaskan bahwa pengawet berfungsi untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme sehingga dapat memperpanjang masa simpan produk. Penggunaan pengawet alami seperti gula, garam, dan cuka maupun pengawet buatan seperti natrium benzoat harus dilakukan secara bijak dan sesuai batas aman. Dalam sesi ini juga diluruskan berbagai mitos di masyarakat, seperti anggapan negatif terhadap MSG, yang pada kenyataannya aman digunakan selama dalam batas yang direkomendasikan.
Pada sesi berikutnya, peserta diperkenalkan dengan konsep thawing atau proses pencairan bahan pangan beku sebelum digunakan. Narasumber menjelaskan bahwa produk frozen food memiliki daya simpan yang lebih panjang karena aktivitas mikroorganisme dan enzim terhambat selama proses pembekuan. Namun, kualitas produk tetap memiliki batas waktu tertentu yang dikenal sebagai high quality life, di mana mutu dari segi rasa, tekstur, dan warna masih dapat diterima.
Peserta juga diberikan pemahaman mengenai teknik thawing yang aman dan benar, seperti mencairkan bahan di dalam lemari es (0–4°C), merendam dalam air dingin dengan kemasan tertutup, atau menggunakan microwave dengan fitur defrost. Penjelasan ini sangat penting karena kesalahan dalam proses thawing dapat memicu pertumbuhan mikroorganisme yang berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, ditegaskan bahwa bahan pangan yang telah berada pada suhu ruang lebih dari dua jam setelah proses thawing sebaiknya tidak digunakan kembali untuk menjaga keamanan pangan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para pelaku UMKM tidak hanya mampu meningkatkan kualitas produk dari segi rasa dan tampilan, tetapi juga dari aspek keamanan dan daya simpan. Penerapan ilmu yang diperoleh diharapkan dapat menjadi nilai tambah dalam meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang semakin kompetitif.
Kegiatan ini menjadi langkah awal yang strategis dalam membangun kesadaran pelaku UMKM terhadap pentingnya standar mutu pangan. Sejalan dengan visi Universitas Hang Tuah, kegiatan pengabdian ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta mendorong terciptanya inovasi berkelanjutan dalam sektor pangan lokal.

